Tidak semua kenikmatan datang dari
hasil akhir. Kadang, ia justru muncul dari proses yang butuh effort lebih.
Hal itu mungkin bisa ditemukan dalam
kebiasaan sebagian perokok yang memilih melinting rokoknya sendiri. Padahal,
jika berbicara soal kepraktisan, rokok pabrikan jelas lebih unggul. Tinggal
membeli, membuka bungkus, mengambil sebatang, lalu membakarnya. Semuanya
selesai dalam hitungan detik.
Namun anehnya, banyak dari pelinting
(perokok linting) mengaku bahwa rokok yang mereka racik sendiri terasa lebih
nikmat. Padahal, jika dibandingkan secara objektif, rokok pabrikan dibuat
dengan mesin yang lebih presisi dan kualitas yang lebih konsisten. Lalu mengapa
hal sebaliknya justru sering dirasakan?
Sebatang Rokok dan Beberapa Menit
Kesabaran
Sebelum asap pertama terhirup, ada
beberapa langkah kecil yang harus dilalui.
Tembakau diambil dari bungkusnya,
lalu ditata di atas selembar papir. Takaran-nya harus pas dan presisi. Terlalu
sedikit membuat lintingan terasa kosong, terlalu banyak justru menyulitkan saat
menggulung. Setelah itu, tembakau diratakan perlahan sambil menabur sedikit
cengkeh, sebelum akhirnya papir digulung dan direkatkan.
Proses ini memang sederhana. Bahkan
bagi yang sudah terbiasa, mungkin hanya membutuhkan waktu satu atau dua menit.
Namun dibandingkan dengan rokok pabrikan yang serba instan, effort kecil itu menciptakan
sesuatu yang berbeda: keterlibatan.
Seseorang tidak hanya menikmati
hasil akhirnya, tetapi juga ikut hadir dalam proses pembuatannya.
Mungkin karena itulah banyak perokok
masih menikmati kegiatan melinting meskipun ada pilihan yang jauh lebih
praktis.
Kenikmatan yang Tidak Langsung Jadi
Di zaman yang serba cepat, kita
semakin terbiasa mendapatkan sesuatu tanpa perlu menunggu lama.
Kopi tersedia dalam bentuk sachet.
Makanan bisa datang hanya dengan beberapa sentuhan di layar ponsel. Bahkan
berbagai kebutuhan sehari-hari dapat dibeli tanpa harus keluar rumah.
Kemudahan tentu bukan sesuatu yang
buruk. Namun ada satu hal yang sering hilang ketika segala sesuatu menjadi
terlalu instan, yakni pengalaman.
Meracik kopi sendiri terasa berbeda
dibanding hanya menuang air panas ke kopi sachet. Memasak makanan sendiri
sering memberikan kepuasan yang tidak selalu ditemukan ketika membelinya.
Begitu pula dengan rokok linting.
Barangkali kenikmatan yang dirasakan
bukan hanya berasal dari tembakau yang dibakar, tetapi juga dari waktu dan
perhatian yang dicurahkan sebelum rokok itu dinikmati.
Ketika Usaha Menambah Nilai
Menariknya, dunia psikologi memiliki
penjelasan untuk fenomena semacam ini.
Pada tahun 2011, Michael I. Norton,
Daniel Mochon, dan Dan Ariely memperkenalkan konsep yang dikenal sebagai IKEA
Effect. Dalam penelitian mereka, ditemukan bahwa manusia cenderung
menghargai sesuatu lebih tinggi ketika mereka ikut terlibat dalam proses
pembuatannya.
Nama konsep tersebut diambil dari
perusahaan furnitur IKEA yang mengharuskan pembeli merakit sendiri sebagian
produknya. Anehnya, setelah mengeluarkan tenaga dan waktu untuk merakit produk
yang dibeli, banyak orang justru menilai hasil rakitan mereka lebih berharga
dibanding barang serupa yang sudah jadi.
Fenomena yang sama tampaknya dapat
ditemukan dalam banyak hal. Makanan buatan sendiri terasa lebih spesial.
Tanaman yang dirawat sejak kecil terasa lebih berharga. Bahkan sebuah karya
sederhana dapat memiliki nilai emosional tinggi, karena di dalamnya terdapat
usaha yang disertakan.
Mungkin, rokok lintingan sendiri
juga demikian.
Ketika seseorang berhasil
menyelesaikan lintingannya sendiri, ada rasa kepemilikan yang tidak sepenuhnya
hadir pada rokok pabrikan. Bentuknya mungkin tidak sempurna, tetapi justru
karena dibuat oleh tangan sendiri, ia terasa lebih berarti.
Barangkali Bukan Tentang Rokoknya
Pada akhirnya, tulisan ini mungkin
tidak sedang membahas rokok semata.
Bisa jadi, ia sedang membahas
sesuatu yang lebih dekat dengan kehidupan manusia secara umum. Bahwa kita
sering kali menghargai sesuatu bukan hanya karena kualitas hasil akhirnya,
melainkan karena usaha yang pernah kita tanamkan di dalamnya.
Rokok linting hanyalah salah satu
contoh kecil. Sebab dalam banyak hal, manusia ternyata tidak selalu mencari
cara yang paling cepat atau paling praktis. Terkadang, yang dicari justru
adalah perasaan bahwa dirinya ikut ambil bagian dalam proses tersebut.
Dan mungkin, di situlah letak
kenikmatan yang sesungguhnya.
Bukan terpatok pada hasil-nya, tapi lebih
ke menikmati setiap proses yang dijalani.

0 Comments