IPK Nol, Portofolio Nggak Ada, tapi Logika dan Empatinya Lulus Cumlaude dari balik Penjara Suci.


Pasti semua orang mikir kalau santri itu hidupnya monoton, mirip kayak ‘kaset rusak’ yang muter lagu dengan lirik yang sama tiap hari: bangun tidur siap-siap sholat jama’ah Subuh, abis itu lanjut ngaji, sarapan pagi, terus berangkat ke sekolah masing-masing. 

Sepulang sekolah? Rehat bentar sambil tidur kelojotan mirip ‘ikan pindang dijejer’, atau buka kitab buat ngulang materi ngaji kemarin—yang rajin aja sih—. Lalu mulai lagi dari sore sampai malam: ngaji, dan ngaji lagi.

Seakan-akan hidup di ‘penjara suci’ ini dipandang sebelah mata oleh banyak orang, ada yang bilang santri itu kolot karena ketinggalan zaman, jauh dari tren karena nggak Up to Date, bahkan para santri dicap menganut sistem Feodalisme oleh kaum yang datang ke pondok cuman buat konten berbagi—ngasihnya cuman sejuta, tapi dapat sepuluh juta dari adsense.

Tidak semua santri seperti itu, adapun yang buruk itu hanyalah oknum, karena hakikatnya seorang santri itu Multitalent. Mereka bisa segala hal yang belum tentu bisa dilakukan oleh orang sebayanya, hal-hal yang dirasa oleh sebagian orang termasuk para wali santri sendiri pun ‘agak aneh’ ya, mulai dari ngecor pondok, nyangkul di sawah, ngarit cari rumput buat hewan ternak pak kiai, menanam buah dan sayur mayur di kebun, dan semua itu mereka jalani sedari umur belasan tahun dan tanpa lihat tutorial di YouTube. Bayangkan.

Anak-anak seusia mereka saja yang pengen ‘njajan’ masih minta orang tua. Lah mereka? kalau nggak nyisihin uang saku bulanan ya nggak bisa ‘njajan’, malah di beberapa pondok pesantren salaf, para santri harus masak dulu supaya bisa makan. 

Apalagi perihal kurikulum akademik. Siapa bilang santri itu kolot? ketinggalan zaman? belum tentu, mereka belajar ilmu fiqih—Ilmu yang kapasitas nya mengikuti arus perkembangan zaman. Mulai dari ushul fiqh, fiqih praktis, qawaid fiqh, lalu merujuk ke ijma’ ulama dan qiyas. orang lain masih FOMO tentang Sound Horeg, para santri sudah tahu hukumnya enam bulan lalu.

Siapa juga yang bilang santri pikirannya lemot? obrolannya ga nyambung? isi otak nya cuman itu-itu doang? jangan salah, di pondok bukan hanya tempat mengaji saja, para santri dibentuk dengan tradisi hafalan yang kuat. 

Buktinya, banyak di antara mereka yang mampu menghafal Al-Qur’an, apalagi di pondok salaf juga ditekankan menghafal kitab matan dan juga nadzam, termasuk 1002 bait Alfiyah ibnu Malik. Mereka yang sering diremehkan dan dicap otak kosong, justru memiliki tingkat kecerdasan linguistik dan memori yang luar biasa.

Demikian juga dalam konsep mengkaji kitab kuning. Mengaji kitab itu tidak asal baca. Sebelum menjelaskan isi dari teks ibarot kitab, mereka harus paham dulu makna per-kata, supaya paham maksud dan konteks suatu pembahasan. Bukan malah baca terjemahan. Udah mentok baca terjemah, tapi merasa paling benar sendiri. 

Katakanlah, lafadz ضَرَبَ (dlaraba) yang memiliki arti ‘memukul’ , artinya secara umum memang ‘memukul’, tapi kurang tepat, karena arti aslinya adalah ‘dia -seorang- laki-laki telah memukul’, kok bisa begitu?, karena dalam lafadz ضَرَبَ mengandung makna هُوَ (dia seorang laki-laki) yang menjadi subjek tersirat, dan lafadz ضَرَبَ merupakan sighat atau bentuk berupa fi’il madhi, yang memiliki arti masa lampau.

Bahasa Arab itu detail—bahkan kata ‘memukul’ saja sudah ketahuan siapa pelakunya. Sedangkan di tempat lain, pelaku saja berlagak jadi korban.

Dan kompetensi semacam itu bukan datang dari ruang hampa. Di pondok pesantren modern, para santri bukan hanya mengaji kitab dan menghafal, mereka dibekali program bahasa Arab-Inggris yang tingkat intensitasnya setara dengan kursus VIP Camp di pare yang biayanya bisa tembus dua juta per bulan.

Mereka, para santri yang mendalami ilmu agama di berbagai fan seperti tafsir, hadis, tasawwuf, fiqih dan lain sebagainya, juga diberi bekal International language dan Second language dari pesantren. Seluruh dunia seakan diberitahu bahwa dari mereka-lah terlahir pemegang kunci Generasi Emas 2045.

Anehnya, dunia kerja hari ini lebih memilih orang dengan standar IPK tertentu, asal kampus, dan nama jurusan. Perusahaan, BUMN, dan para pemegang kursi jabatan pun demikian, hanya segelintir saja yang sampai melihat ke CV dan portofolio. Seakan masa depan seseorang bergantung pada lampiran kertas, bukan dari kompetensi nyata.

Banyak dari kalangan santri yang lebih memilih menuntaskan masa mondoknya tanpa melanjutkan ke jenjang perkuliahan. Mungkin mereka tidak punya gelar akademik, CV maupun portofolio, apalagi IPK. Namun di balik itu, mereka punya potensi yang mengagumkan.

Orang-orang dengan wawasan luas dan kapasitas kognitif yang terasah, terbiasa berpikir rasional dan sistematis ketika memecahkan berbagai persoalan, sekaligus menguasai bahasa Arab hingga ke struktur terdalamnya—membuat mereka mampu bertahan di segala kondisi, cerdas layaknya seorang akademisi, namun tak haus validasi. Ironisnya, kemampuan segitu lengkapnya masih kalah sama satu baris di CV: “pernah ikut seminar dua jam dan dapat sertifikat”.

Dan di banyak pesantren modern, kemampuan itu dilengkapi dengan bahasa internasional melalui kurikulum formal. Terlebih lagi, ada suatu hal yang dimiliki para santri—yang belum tentu dimiliki oleh orang yang ‘nggak pernah mondok’.

Yang mereka punya itu bernama Emotional Intelligence: kemampuan membaca karakter orang, memahami emosi sendiri, dan peka pada perasaan orang lain. Dalam psikologi, kebiasaan ini termasuk bagian dari social awareness, cabang penting dalam kecerdasan emosional.

Dan percaya atau tidak, sekolah terbaik untuk melatih ini adalah hidup 24/7 bareng teman-teman dari berbagai daerah, logat, ego, dan punya drama tersendiri. Dari situ, para santri terbiasa menjaga hubungan tetap adem, menengahi konflik tanpa baper, dan memimpin dengan kepala yang lebih dingin dari lantai mushola waktu subuh.

Kaum santri berhak untuk bekerja di perusahaan BUMN, perbankan (terutama perbankan syariah), berbisnis, sampai mengisi kursi DPR dan jabatan pemerintahan yang lain. Bahkan santri—yang konon katanya cuma tahu mengaji dan menghafal—layak ikut seleksi CPNS, termasuk untuk Kemenlu. Mereka layak. Sekali lagi, layak.

Beri mereka ruang untuk tumbuh dan waktu untuk berproses—mulai dari kuliah di bidang masing-masing, sampai penyetaraan kualifikasi profesional. Lalu tunggu saja sampai lima, sepuluh, hingga dua puluh tahun ke depan. 

Indonesia akan dipimpin oleh mereka yang paham agama, tapi juga punya kapasitas kepemimpinan dan intelektualitas yang matang. Bukan cuma sekadar hafal dan paham kitab, tapi mampu menata negeri dengan kepala dan hati yang selaras.

Indonesia butuh ini, dan ini yang dibutuhkan Indonesia. Jadi jangan kaget kalau suatu saat, rapat kabinet dimulai dengan bacaan yasin tahlil.

Post a Comment

0 Comments

Postingan Lama