Stigma Literasi yang Menjadi Krisis di Lingkup Pesantren.

Banyak yang mengira bahwa para santri yang berada di dalam suatu pendidikan diniyah atau pesantren memiliki ‘krisis dalam ber-Literasi’.

Para santri yang menuntut ilmu di pesantren, rata-rata menggunakan metode belajar bernama sorogan (santri yang membaca dan guru mengoreksi) dan bandongan (guru atau kiai yang membaca, santri mendengarkan). Yang dimana, kedua hal itu hanya bisa dilakukan ketika ada guru atau kiai saja, dan hal itu belum bisa disebut ‘Literasi’.

Banyak orang bilang bahwa literasi yang baik itu bukan hanya sekedar membaca, tapi juga menulis dan diskusi. Trilogi membaca, menulis dan diskusi inilah yang bisa disebut  ‘Literasi’.

Faktanya, para santri di pesantren sudah melakukan hubungan Trilogi ini—tanpa disadari. Mereka membaca ibarot yang ada pada kitab-kitab yang mereka kaji, mereka menulis kembali struktur pembahasan yang ada pada kitab tersebut dengan bahasa yang amat mudah dipahami, dan mereka pun mulai berdiskusi dengan itu.

Jadi, ketika ada stigma negatif dari suatu kelompok ataupun individu yang menganggap bahwa didalam lingkup pesantren terjadi ‘Krisis Literasi’, mereka salah—merekalah yang kurang ber-Literasi.

Dalam lingkup pesantren, para santri bukan hanya ber-Literasi tentang pelajaran di sekolah ataupun yang ada di pondok saja, mereka juga ber-Literasi tentang sosial, agama, negara dan bahkan tentang apa yang ada di seluruh dunia.

Lewat kebiasaan menghafal kitab yang sudah ditanamkan sejak lama, diskusi berbagai macam fan ilmu untuk memecahkan masalah, sampai belajar bahasa arab—yang bisa mereka gunakan sebagai second international language.

Ini semua menjadi bukti kuat, bahwa merekalah yang memegang kunci menuju Indonesia Emas 45.


Post a Comment

0 Comments

Postingan Lama