Secuil Paparan mengenai Critical Thinking: Coretan Ringkas dari Sebuah Acara bernama LDKM


Di tengah derasnya arus informasi hari ini, kemampuan berpikir kritis seringkali dianggap sebagai hal baru—lahir dari tradisi Barat yang menekankan konsep rasionalitas sebagai pusat kebenaran. Namun, jika ditarik lebih jauh, tradisi Islam sebenarnya telah lebih dulu meletakkan fondasi berpikir kritis, bahkan dengan sistem yang teramat rapi dan teruji, yaitu melalui ilmu hadits.

Di Barat, kebenaran sering ditimbang melalui logika sebagai instrumen utama—meskipun di dalamnya juga berkembang filsafat moral, empirisme, dan berbagai pendekatan lainnya. 
Tapi dalam perspektif Islam, ketika rasio belum cukup menjangkau, ada satu dimensi lain yang bekerja—hati. Bukan sekedar perasaan, melainkan pusat kesadaran terdalam yang disebut af’idah atau fu’ad—bagian dalam dari qolbu.

Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam QS. Al-Mulk ayat 23:
قُلْ هُوَ الَّذِيْٓ اَنْشَاَكُمْ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَالْاَفْـِٕدَةَۗ قَلِيْلًا مَّا تَشْكُرُوْنَ ۝٢٣
“Katakanlah, Dia-lah Zat yang menciptakanmu dan menjadikan bagimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani. (Akan tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur.”

Menariknya, ayat ini memberikan urutan yang jelas dalam menerima dan mengolah informasi: mulai dari as-sam’ (pendengaran), dilanjut ke al-abshar (penglihatan), dan dipungkasi dengan al-af’idah (hati).
Artinya, proses berpikir tidak berhenti pada apa yang didengar dan dilihat, karena dua hal itu hanyalah pintu masuk semata. Makna sejati justru lahir ketika informasi tersebut sampai ke al-af’idah—bagian terdalam dari hati yang mengolah, menimbang, dan memberi makna.

Tanpa sampai ke tahap ini, informasi hanya lewat—tidak sampai menjadi sebuah pemahaman.
Dan disinilah, mulai tumbuh alur berpikir kritis.

Bertanya “Kenapa?” Sampai ke Akar-nya
Inti dari berpikir kritis sebenarnya cukup sederhana, yakni bertanya “kenapa?”—dan terus mengulanginya.
“Kenapa ini benar?” “Kenapa ini disampaikan?” “Kenapa harus dipercaya?”. Pertanyaan-pertanyaan ini bukan untuk meragukan segalanya secara buta, tapi untuk mencapai satu hal penting dalam konsep berpikir kritis ala Islam, yang disebut tabayyun atau klarifikasi.

Dengan terus bertanya, seseorang tidak berhenti berpikir pada persoalan dangkal, Ia menggali sampai ke akar masalah yang ada. Dan disitulah kebenaran mulai terlihat, bukan sekedar diterima.

Ilmu Hadits: Sistem Verifikasi yang Kritis
Jika ada yang mengira bahwa critical thinking adalah konsep baru, maka ilmu hadis adalah bantahan paling elegan.
Para ulama hadis sejak berabad-abad lalu telah membangun sistem verifikasi informasi yang amat ketat, diantaranya: Ilmu Rijalul Hadits yang mengkaji perihal kredibilitas seorang perawi (siapa yang menyampaikan informasi), Ilmu Jarh wa Ta’dil yang menilai ‘apakah seorang perawi bisa dipercaya atau tidak’ dengan menimbang kebaikan dan keburukan seorang perawi, juga Ilmu Kritik Sanad yang memeriksa rantai periwayatan—apakah tersambung sampai ke Rasulullah SAW atau terputus, dan Ilmu Kritik Matan yang menguji dan mengoreksi isi hadis, agar selaras dengan Al-Qur’an, prinsip syariat, dan tidak bertentangan secara rasional, ada juga Ilmu Manahij al-Muhadditsin yang didalamnya terdapat metode-metode para ahli hadis dalam meneliti dan menyaring informasi.

Semua itu merumuskan suatu hal, bahwa informasi tidak boleh diterima mentah-mentah.
Buktinya, dalam perihal hadits atau sabda Nabi SAW, ada proses panjang sebelum sesuatu dinyatakan shahih.

Lebih dari Sekadar Teori: Untuk Kehidupan Nyata
Berpikir kritis bukan hanya alat intelektual. Ia punya dampak yang benar-benar nyata dan bisa berguna dalam kehidupan sehari-hari, antara lain: Mengungkap sebuah kebohongan dari orang yang sedang diinterogasi atau dicurigai melakukan kejahatan, menyusun kebijakan dan peraturan yang adil, menghindari manipulasi informasi sekaligus terhindar dari berita hoax, dan menjadi pribadi yang tidak mudah terpengaruh oleh orang lain. 

Bahkan dalam konteks kepemimpinan, Rasulullah SAW bersabda:
"كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ."
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini menegaskan bahwa setiap individu dituntut untuk berpikir kritis, menimbang segala aspek, dan mengambil keputusan secara sadar—bukan hanya sekedar ikut arus.

Ciri Berpikir Kritis yang Sehat
Agar tidak terjebak dalam skeptisisme berlebihan, berpikir kritis perlu memiliki pijakan yang jelas—yang pada kali ini, penulis menyebutkan empat hal, yang pernah disampaikan oleh Mudir M2 Ma’had Aly Hasyim Asy’ari. 

Empat hal itu mencangkup: Sistematis—tidak lompat-lompat dalam menarik kesimpulan, Logis—masuk akal dan terstruktur, Objektif—tidak didominasi oleh sifat emosional atau bias pribadi, Berbasis data—ada dasar-nya, yang bisa kita dapatkan lewat metode search and research ataupun check and recheck —bukan dari asumsi semata.

Penutup: Menimbang, Bukan Sekadar Menerima
Pada akhirnya, berpikir kritis dalam Islam bukan berarti meragukan segalanya, tapi menempatkan setiap informasi pada proses yang layak—sebelum bisa dipercaya.

Dari as-sam’ ke al-abshar, lalu ke al-af’idah—itulah perjalanan sebuah informasi yang awalnya hanya sebatas pengetahuan menjadi sebuah pemahaman. Dan ilmu hadis telah menunjukkan kepada dunia—jauh sebelum era digital, bahwa kebenaran tidak pernah lahir dari sikap pasif. 

Ia lahir dari kejernihan pikiran untuk mencerna informasi, keuletan untuk memahami secara detail sampai ke akar-akarnya, dan butuh ketulusan serta keikhlasan hati terdalam (al-af’idah)—agar pengetahuan dan wawasan bisa tumbuh menjadi kebijaksanaan.

NB: Penulis sudah meminta izin terlebih dahulu kepada DR. Ahmad Ubaydi Hasbillah, MA selaku pemateri pada acara tersebut, untuk mempublish ringkasan materi di blog pribadi.

Post a Comment

0 Comments

Postingan Lama