Telaah Ringkas tentang Kekuatan Keyakinan dan Al-Qur’an sebagai Obat: Hasil Catatan dari Peserta FUD Fair 2026.

Pada tanggal 9 Mei 2026, Saya -Dhion Rahmadi Fajar- selaku anggota DEMA MAHA dari divisi MENLU, ikut serta meramaikan acara Kajian Akbar Nasional yang diselenggarakan oleh Institut Al-Fithroh Surabaya. 
Acara yang bertema ‘Yaqin is Power, Qur’an is Direction’ itu juga dihadiri oleh beberapa perwakilan instansi se-Indonesia. 

Dengan kolaborasi epik dari tiga jurusan yang berbeda: Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Ilmu Tasawwuf serta Ilmu Komunikasi dan Penyiaran Islam, IAF Surabaya memberikan hidangan keilmuan yang amat elegan dan fantastis. 
Secara pribadi, saya merasa ada hal yang kurang—ketika sudah mengikuti kajian tersebut, tapi belum berbagi pengetahuan dan wawasan kepada kalian.

Menilik Para Pemateri
Acara yang penuh akan sarat keilmuan pastinya tidak terlepas dari narasumber yang alim di bidangnya. IAF Surabaya dalam event FUD FAIR 2026 berhasil menggandeng dua cendekiawan hebat, intelektual, sekaligus menjadi tokoh yang dihormati di masyarakat. 
Ditemani oleh moderator berpengalaman sebagai jembatan antara pemateri dan audiens, menjadikan forum tersebut penuh dengan nuansa keilmuan yang kental. 

Dr. H. Rosidi, S.Pd.I., M.Fil.I. 
Pemateri pertama ialah sang rektor Institut Al-Fithroh Surabaya. Materi yang beliau kaji bertema ‘Ilmu Yakin dan menerapkan yakin menuju kesempurnaan hakiki’—yang disampaikan dengan penjelasan yang simpel dan mudah dipahami. 

Lewat hadis, maqolah, dan cerita, serta berbagai analogi yang relate dengan kenyataan, membuat pembahasan yang tadinya butuh berhari-hari baru paham, hanya beliau jelaskan dalam satu kali duduk.
Selain sebagai rektor Institut Al-Fithroh Surabaya, beliau juga menjabat sebagai Ketua Umum Ath Thoriqoh Qodiriyah wan Naqsyabandiyah (TQN) Al Utsmaniyyah.

KH. Ma’ruf Khozin.
Pemateri kedua sekaligus tamu kehormatan ini datang dari pintu gerbang pulau madura, tepatnya di Suramadu. 
Beliau adalah pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Ulum I Suramadu—lembaga pendidikan Islam pertama yang didirikan di area jalur akses tol Jembatan Suramadu sisi Madura. 

Selaku ulama’, penulis, dan pakar ASWAJA (Ahlussunnah wal Jama’ah) dari Jawa Timur, beliau juga menjabat sebagai Ketua Komisi Fatwa MUI Jawa Timur dan Ketua PW Aswaja NU Center Jawa Timur.

Kurang berkenan agaknya, jika saya tak menyebutkan satu sosok Moderator, yang membersamai kedua pemateri hebat ini. 
Dia bernama Ahmad Yusup, S. Ag —seorang Demisioner Institut Al-Fithroh Surabaya, dan sudah berkecimpung di dunia komunikasi lewat kesibukannya menjadi Penyiar Radio Surabaya.

Kajian Pertama: Yakin is Power
Sebelum memulai kajian, Dr. H. Rosidi, S.Pd.I., M.Fil.I. selaku rektor Institut Al-Fithroh Surabaya, menyampaikan sepatah-dua patah kalimat dalam sambutannya. 
Beliau nampak senang, ketika melihat acara itu dihadiri oleh banyak perwakilan dari sejumlah instansi, dan dengan bangga beliau menyebutkan bahwa lirik dalam Hymne Institut Al-Fithroh—akan diubah diksinya (baca: bercanda). 

Karena tinggal menunggu visitasi, beberapa langkah lagi Institut itu akan berevolusi menjadi Universitas Al-Fithroh Surabaya. Juga dengan penuh semangat, beliau bilang bahwa Institut Al-Fithroh telah melakukan lompatan-lompatan besar, mulai dari pengabdian masyarakat ke malaysia dan singapura, sampai KKN tingkat Internasional.

Pada sesi kajian, beliau memulai dengan mengambil hadis yang beliau kutip dari kitab Al-Muntakhobat fi Robithotil Qolbiyyah wa Silatur Ruhiyyah (sering disebut Al-Muntakhobat). 
Sebuah masterpiece karya Hadlrotusy Syaikh KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqi RA, pendiri Pondok Pesantren Assalafi Al-Fithrah, Surabaya. 
Pada bab 1 jilid 2,
روى عن سيدنا سلمان بن عامر رضي الله عنه، يقول : سمعت أوسط البجلي رضي الله عنه، على منبر حمص يقول : سمعت سيدنا أبا بكر الصديق رضي الله عنه، على المنبر وهو يقول : سمعت رسول الله - صلى الله عليه وآله وصحبه وسلم - على هذا المنبر عام أول والعهد قريب : « سلوا الله تعالى اليقين والعافية ، فإن الناس لم يعطوا شيئا خيرا ، من اليقين والعافية ».
Artinya: Diriwayatkan dari Salman bin Amir R.A, ia berkata: “Aku mendengar Awsath al-Bajali R.A di atas mimbar Homs berkata: “Aku mendengar Abu Bakar Ash-Shiddiq R.A di atas mimbar berkata”: “Aku mendengar Rasulullah saw di atas mimbar ini pada tahun pertama (setelah hijrah), saat masanya masih dekat, bersabda: “Mintalah kepada Allah keyakinan (yaqin) dan keselamatan/kesehatan (afiyah), karena manusia tidak diberi sesuatu yang lebih baik daripada keyakinan dan keselamatan.”

Kemudian beliau mengutip hadis lagi, 
“ما أعطيت أمة من اليقين أفضل مما أعطيت أمتي”
Artinya: “Tiada umat yang dianugerahi keyakinan lebih afdhal (utama) dari­pada yang dianugerahkan Allah kepada umatku”. Kali ini kita tahu —bahwa dari sabda Nabi yang berpesan untuk kita, agar meminta Keyakinan yang kuat, serta keselamatan kepada Allah swt, merupakan suatu bentuk rasa syukur kita yang ditakdirkan sebagai umat Nabi Muhammad saw.

Kemuliaan menjadi umat islam tidak berhenti perihal keyakinan yang kuat saja—jika dibandingkan dengan umat yang lain. Melainkan, ada sebuah Privilege disana. 

Dr. Rosidi menggambarkan itu dengan membandingkan antara Nabi Adam as dan umat Nabi Muhammad saw. Allah swt telah memberikan larangan dalam surat Al-Baqarah ayat 35 —kepada Adam dan Hawa agar tidak mendekati pohon keabadian. 
Lalu, dengan tipu daya setan -segala nikmat yang telah diberikan oleh Allah swt kepada mereka berdua- serasa tak ada apa-apa nya dengan buah yang katanya bisa memberikan keabadian. Mereka berdua memakan buah itu, seketika Allah swt memberi mereka sanksi berupa terlucutinya pakaian dan diusir dari surga. 

Sebaliknya, umat Nabi Muhammad saw diberi oleh Allah swt banyak sekali nikmat. Kita diberi rezeki, sehat, orang-orang yang peduli terhadap kita, dan lain sebagainya. 

Namun, ketika umat Nabi Muhammad saw melakukan perbuatan dosa di dunia —sebanyak apapun. Jikalau mereka bisa mempertahankan iman dan keyakinan sampai akhir hidupnya, maka mereka akan tetap dinaikkan ke surga, meski harus singgah dulu di neraka.

Mengenai keyakinan, ada tiga konsep pembagian. Tingkat rendah, yakni tahap keyakinan paling dasar, biasanya diperuntukan bagi orang awam. 
Di tahap ini, beliau menjelaskan bahwa dalam tingkat keyakinan paling dasar, diibaratkan dengan seseorang yang membuat akun instagram, hanya diniatkan agar bisa sharing ilmu dan informasi yang bermanfaat—tanpa peduli tentang ‘ada atau tidak’-nya orang yang mengikuti akun kita. 
Kedua, yaitu tingkat menengah, yang diisi oleh orang-orang istimewa saja. Begitu juga pada tingkatan ke tiga atau level terakhir dari keyakinan, yang hanya bisa dicapai oleh orang yang ma’rifat. Pada akhirnya, orang yakin adalah orang yang hanya mengharap ridha Allah swt semata.

Kejadian yang lumayan sering terjadi dalam lingkup masyarakat, juga demikian. Yaitu pergi berobat ketika sakit. Orang dengan keyakinan cukup tinggi, menganggap bahwa pergi berobat hanyalah sarana dalam menjalankan perintah Allah swt saja—bahwa ikhtiar itu harus. 

Berbeda dengan level keyakinan kita yang masih rendah, yang mana, kalau tidak berobat—kita malah tidak sembuh-sembuh. Di level kita, berobat itu sudah seperti sebuah keharusan, karena kita berpikir bahwa ketika kita sakit, berobatlah solusinya. 

Segala hal itu, tergantung seberapa yakin kita atas segala prasangka yang ada. Jika kita yakin bahwa dengan minum air putih dan istirahat yang cukup, sudah bisa sembuh tanpa perlu berobat—maka tubuh akan merespon pikiran positif kita, sebagai salah satu penyembuh alami. 
Dan ketika kita sudah yakin bahwa hanya dengan berobat, baru bisa sembuh—maka sampai kapanpun, tak ada kata sembuh kalau belum pergi berobat. 

Hal ini selaras dengan hadis qudsi yang diriwayatkan oleh Watsilah bin Al-Asqa’: 
“إنّ الله تَعالى يَقولُ: أَنا عِنْدَ ظنِّ عَبْدِي بِي إنْ خَيْرًا فَخَيْرٌ وإنْ شَرًّا فشر”
(طس حل) عن واثلة.
Artinya: “Sesungguhnya Allah swt berfirman: Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Jika ia berprasangka baik, maka baginya kebaikan. Dan jika ia berprasangka buruk, maka baginya keburukan.”

Hadis ini menjelaskan bahwa apapun prasangka kita terhadap Allah swt, maka itulah yang kita dapatkan. Jika kita berpikiran positif, maka kita juga akan mendapatkan hal yang positif. 

Sebaliknya, jika kita berpikiran sesuatu yang negatif, maka kita juga akan mendapatkan hal yang sama negatifnya.

Terakhir. Sebagai penutup kajian pertama, beliau mengutip sebuah wasiat dari Luqman Al-Hakim kepada anaknya: 
...”وفي وصية لقمان لابنه يا بني لا يستطاع العمل إلا باليقين ولا يعمل المرء إلا بقدر يقينه”...
Artinya: “Dan dalam wasiat Luqman kepada anaknya: Wahai anakku, amal itu tidak akan mampu dilakukan kecuali dengan keyakinan. Dan seseorang tidak akan beramal kecuali sesuai kadar keyakinannya.”

Contoh, ada orang yang berdonasi kepada sebuah yayasan atau panti asuhan. Ada yang berdonasi sebesar lima juta, sepuluh juta, bahkan sampai ratusan juta. 
Jika bukan sebab keyakinan, bahwa uang yang didonasikan tidak akan sia-sia. Maka uang sepeser pun tak akan keluar dari kantongnya.

Kajian Kedua: Qur’an is Direction

Masuk pada kajian kedua—yang cukup ringkas. Kali ini KH. Ma’ruf Khozin memberikan kajian yang membahas tentang “Al-Qur’an adalah Obat Hati”. 

وأخرج ابن المنذر وابن مردويه عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه قال : « جاء رجل إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقال : أني أشتكي صدري . فقال : اقرأ القرآن ، يقول الله تعالى : شفاء لما في الصدور »
Artinya: Diriwayatkan oleh Ibnu al-Mundzir dan Ibnu Mardawaih dari Abu Sa’id al-Khudri ra., ia berkata:
Seorang laki-laki datang kepada Nabi saw lalu berkata, “Sesungguhnya dadaku terasa sesak/sakit.” Kemudian Nabi saw bersabda: ‘Bacalah Al-Qur’an, karena Allah swt berfirman: “(Al-Qur’an) adalah penyembuh bagi apa yang ada di dalam dada.”

Dalam hadis tersebut, jelas bahwa Nabi saw sendiri yang mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah obat bagi penyakit hati. Ditambah, ada ayat Al-Qur’an yang dikutip oleh Nabi Muhammad saw, tepatnya pada surat Yunus ayat 57. 
Dijelaskan pula dalam ayat tersebut, bahwa Al-Qur’an bukan hanya sebagai obat hati, atau penyembuh bagi suatu penyakit yang terdapat dalam dada saja. Tapi, Kalamullah juga berfungsi sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang mukmin.

Perihal Al-Qur’an sebagai petunjuk. Beliau menjelaskan bahwa Al-Qur’an itu ibarat sebuah google maps—sebuah pedoman yang bisa menunjukan arah. Antara mana jalan yang benar dan yang salah, mana yang seharusnya dilakukan dan mana yang tak boleh dikerjakan. 

Jika google maps hanya bisa menjadi petunjuk kita di dunia saja, maka Al-Qur’an-lah yang jadi satu-satunya petunjuk sekaligus pedoman, agar kita bisa selamat di dunia dan akhirat.

Namun, seringkali Al-Qur’an hanya dianggap sebagai manual book saja. Kitab suci yang dilirik sebagai buku bacaaan, bahkan hanya dibaca pada event spesial, atau ketika ada suatu hajat tertentu. 
Jika Al-Qur’an hanya diposisikan sebagai teks fungsional (untuk momen tertentu) saja. Maka, masyarakat cenderung mengambil ayat secara selektif, tidak menyeluruh, dan tidak hidup bersama dengan al-Qur’an dalam keseharian. 
Dan ketika hal itu terjadi, fungsi Al-Qur’an sebagai obat, rahmat dan petunjuk jadi melemah, sebab hati mereka tidak benar-benar terhubung dengan Al-Qur’an. 

Penulis sendiri pernah mengalami hal itu. Dibilang jarang baca Al-Qur’an, tapi tiap hari ada jadwal rutinan bersama teman pondok. Mulai dari membaca surat Al-Waqi’ah selepas sholat subuh, surat Al-Mulk sebelum tidur, dan rutinan membaca surat Yasin setiap malam jum’at. 

Para kiai serta guru-guru kita megajari hal tersebut bukan tanpa alasan, tapi sebuah pembiasaan. Seperti yang dijelaskan oleh KH. Ma’ruf Khozin, bahwa “Meskipun yang dibaca masih surat-surat pilihan, setidaknya kita tidak pernah lepas dari Al-Qur’an”.

Terakhir, beliau juga sempat membahas perihal ‘uzlah (mengasingkan diri untuk beribadah, agar lebih dekat dengan Allah swt). Mungkin kita sendiri sering mendengar cerita-cerita tentang seorang pengembara, yang melakukan perjalanan guna mencari kebebasan—tempat dan suasana yang terbebas dari manusia. 
Kalau kita pikir, bukankah baik, jika kita bisa mencari tempat sepi dan tenang agar bisa fokus beribadah? Jawabannya: Tidak selalu. 

Ada saat, dimana seseorang boleh untuk melakukan ‘uzlah, adakalanya tidak. Bahkan ‘uzlah itu sendiri bisa tetap dilakukan walaupun tidak pergi jauh. 
Menurut Syekh Muhammad Said Ramadhan al-Buthi tujuan utama dari ‘uzlah adalah tafakkur. Bahkan menurut beliau, manfaat ‘uzlah tidak akan sempurna kecuali dengan menyibukkan hati dengan proses tafakkur. 
Dalam suatu saat, Ummu Darda’ pernah ditanya mengenai amalan Abu Darda` yang paling utama, kemudian Abu Darda’ menjawab: ‘tafakkur’. Bahkan ada riwayat yang menyatakan bahwa “Berfikir sesaat lebih baik, dari beribadah selama 70 tahun”.

Lagi-lagi jika kita membahas mengenenai suatu amalan, termasuk ‘uzlah. Pasti tetap ada plus-minusnya tersendiri. Dan disamping dari banyaknya manfaat Uzlah di Zaman Modern, tidak menutup kemungkinan akan adanya Urgensi dalam Uzlah itu sendiri, antara lain: 1. Orang yang beruzlah secara tak langsung tidak dapat terlibat dalam proses belajar mengajar, 2. Orang yang melakukan uzlah tidak dapat memberikan manfaat kepada orang lain, 3. Orang yang melakukan uzlah tidak dapat melihat diri sendiri dan membimbing orang lain.

Oleh karena itu, untuk melakukan suatu amalan tertentu, kita harus bertafakkur terlebih dulu. Contoh jika ingin melakukan ‘uzlah, pastikan orang yang kita tanggung nafkah-nya sudah tercukupi—dari mulai berangkat, sampai kita pulang. 

Selain melihat kondisi internal, kita juga perlu melihat kondisi eksternal, apakah kita bisa lebih bermaanfaat jika tidak melakukan ‘uzlah, dan masih adakah orang lain yang membutuhkan kita. 
Setelah permasalahan internal dan eksternal dibedah, barulah kita bisa mengambil sebuah keputusan—pergi ‘uzlah atau tinggal. Wallahu a’lam.

Kesimpulan
Dari kajian pertama yang membahas tentang Keyakinan, macam-macam tingkatan Keyakinan, serta efek memantapkan keyakinan dalam melakukan sesuatu, kita jadi tahu—kalau kita sudah yakin, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. 

Kajian kedua juga mengajarkan kita, bahwa sakit hati dan berbagai penyakit hati, obatnya bukanlah obat yang biasa kita beli di apotek terdekat, atau yang bisa diresepkan langsung oleh dokter. 
Tapi, obat dari segala macam penyakit, termasuk penyakit hati—tiada lain dan tiada bukan, yakni Al-Qur’an Al-Karim. 

Inilah ringkasan pembahasan dari Kajian Akbar Nasional FUD Fair 2026. Hanya sedikit ilmu, pengetahuan dan wawasan yang bisa penulis bagikan—mohon maaf sebelumnya. 
Jika ada yang salah dalam tulisan ini, baik dari segi tata bahasa, pencarian referensi dan alur logika yang kurang pas, itu murni dari penulis. 
Kalian bisa berkomentar, atau langsung menghubungi-nya jika berkenan, karena penulis -menulis- artikel ini murni dari hati dan pikiran—Tanpa AI dan semacamnya. 

Terimakasih.

Footnote:
1. Singkatan dari Fakultas Ushuluddin dan Dakwah.
2. أخرجه الإمام أحمد في مسنده وابن ماجه في سننه والحكيم الترمذي في نوادره، والترمذي في سننه، وقال: هذا حديث غريب من هذا الوجه عن سيدنا أبي بكر الصديق رضي الله عنه. Karena kitab Al-Muntakhobat tidak tersedia versi pdf, kalian bisa lihat foto halaman yang saya cantumkan disini: https://drive.google.com/drive/folders/1FbxIBMFJhtYIuxjO9WN8r53t9EhqopcP 
 3. Diriwayatkan oleh Al-Hakim, berasal dari Sa’ad bin Mas’ud Al-Kindi. https://www.alhabibahmadnoveljindan.org/keyakinan-yang-sempurna-pada-umat-ini/#_ftn1 
4. https://quran.nu.or.id/al-baqarah/35 
5. https://quran.nu.or.id/al-baqarah/36 
6. الكتاب: صحيح وضعيف الجامع الصغير وزيادته, [حكم الألباني]
 (صحيح) انظر حديث رقم: ١٩٠٥ في صحيح الجامع. Sumber, App Turath: https://app.turath.io/book/21659?page=2785 
7. الكتاب: إحياء علوم الدين. Sumber, App Turath: https://app.turath.io/book/9472?page=72 
8. الكتاب: الدر المنثور, وَأخرج الْبَيْهَقِيّ فِي شعب الإِيمان عَن وائلة بن الْأَسْقَع. Sumber, App Turath: https://app.turath.io/book/12884?page=3268 
9. https://quran.nu.or.id/yunus/57 
10. DR. Said ramadhan al-Buthi, Al-Hikam al-Athâ’iyyah Syarh wa Tahlîl, hal. 169.
11. Hujjatul Islam Imam Ghazali, Ihya` Ulûmud-Din, hal.449.
12. Dahri, Harapandi, Kritik dan Releansi Uzlah Di Zaman Modern, Jurnal Sang Salik, 354.

Post a Comment

0 Comments

Postingan Lama