Dan coba kita lihat kondisi yang ada saat ini, banyaknya gelombang PHK serta sulitnya lapangan kerja—terutama bagi masyarakat fresh graduate, kekhawatiran politik dinasti dan konsentrasi kekuasaan, begitu juga dengan kondisi mengenaskan lainnya, termasuk melemahnya mata uang rupiah.
Jika kita flash back cukup jauh di masa sebelum beliau terpilih menjadi presiden, sudah banyak dugaan kasus yang dimiliki oleh si Owo ini, mulai dari dugaan keterlibatan penculikan aktivis 98 saat era reformasi, sampai tuduhan pelanggaran HAM di Timor Timur saat operasi militer era Orde Baru. Ditambah, beliau adalah menantu dari Sang Gladiator, Presiden ke-2 Soeharto.
Dan kalau dipikir-pikir, perjuangan Pak Prabowo lumayan berat untuk sampai ke titik ini. Beliau sudah ber-ikhtiar sebanyak lima kali—hanya untuk menjadi pemimpin negara, baru menang sekali dan kalah empat kali.
Bahkan sudah kalah dua kali oleh si Pria Solo pun tetap berani nyalon presiden. Akhirnya, pada pemilu 2024 kemarin, beliau menang dan terpilih menjadi Presiden RI ke-8.
Jahatnya Moral Pemerintah Saat Ini
Sebelum Prabowo menjadi presiden, beliau pernah mengutip sebuah ungkapan dari Vladimir Lenin dalam pidatonya, kira-kira begini, “ Kalau mau menghancurkan suatu Negara, pertama: hancurkanlah mata uangnya.”
Tapi setelah resmi menjadi presiden, Prabowo seakan sudah lupa perihal perkataannya itu. Tepat ketika rupiah melemah oleh dolar amerika, beliau pernah berkata: “ Mau dolar berapa ribu kek, kan kalian di desa-desa nggak pakai dolar”.
Bagi saya, ada satu hal yang menjadi titik tumpu dalam pembahasan ini, yakni sikap Denial.
Pemerintah seakan mencoba untuk menghibur masyarakat dengan sikap sok baik-baik saja—agar rakyat Indonesia tidak khawatir dan cemas.
Dan ketika rupiah sudah menyentuh angka 17.600, dengan santainya beliau bilang, “ Selama Purbaya bisa senyum, tenang aja. Gausah kau khawatir itu.”
Dampak ke Masyarakat
Di awal mungkin rakyat akan tenang setelah mendengar perkataan Prabowo, tapi setelah tahu apa yang sebenarnya terjadi? Jangankan cemas dan khawatir, masyarakat sudah tidak bisa percaya lagi kepada pemerintah.
Saat kurs rupiah melemah oleh dolar, banyak investor asing yang lari dari market. Dari data yang ada, tiap US$1 miliar outflow, bisa melemahkan nilai rupiah sebesar 1-1,5%. Dan ketika IHSG jatuh, maka rupiah ikut anjlok.
Alhasil, otoritas moneter pun turun tangan. Bank Indonesia terus melakukan intervensi untuk menahan rupiah, akibatnya? Cadangan devisa turun dari US$156 miliar ke US$142,6 miliar.
Masalahnya, jika pasar melihat devisa yang terus turun, mereka bisa berpikir bahwa ‘Pertahanan BI mulai goyah’. Dan itu memicu kepanikan yang amat real.
Untuk Menkeu, baiknya diganti saja. Sudah banyak orang yang setuju kalau menteri keuangan saat ini, harus diganti. Pertama, karena dia bukanlah ekonom. Kedua, Purbaya terlalu cari muka di depan Presiden.
Buktinya, dia bangga karena pendapatan APBN naik sebesar 10,5% per YoY padahal, anggaran belanjanya 31,4% per YoY. Jadi, defisit APBN tetap tinggi pak, masa harus saya yang jelasin.
Pemerintah sebagai Korek Pembakar Uang
Dan ternyata, ketika kita bedah anggaran yang 31,4% itu—yang kalau di angka kan jadi 815 triliun.
610 triliun hanya untuk belanja pemerintah pusat.
Yang mana, 610 triliun belanja pemerintah pusat di Q1 mengalir ke subsidi energi, program MBG, pengadaan kementerian, birokrasi, hingga proyek yang efek ekonominya belum terasa jelas.
Masalahnya, saat pendapatan negara hanya tumbuh 10,5%, belanja justru melonjak 31,4% hingga total APBN menembus Rp815 triliun.
Di saat ekspor cuma tumbuh 0,34% dan impor naik 10,05%, pasar mulai membaca ada ketimpangan serius: negara makin boros, tapi perekonomiannya belum cukup kuat.
Solusinya bukan sekadar irit saja, melainkan memangkas belanja yang mubazir dan mengarahkan APBN ke sektor yang benar-benar menghasilkan devisa, industri, dan pertumbuhan nyata.
footnote:
1. 2004: Maju di Konvensi Golkar= Gagal, 2009: Calon Wapres mendampingi Megawati= Kalah, 2014: Calon Presiden melawan Jokowi= Kalah, 2019: Capres ke-dua kali melawan Jokowi= Kalah.
2. Kalimat tersebut dirujuk saat acara Serasehan 100 Ekonom Indonesia, tahun 2023. Saat beliau masih menjabat sebagai Menteri Pertahanan.
3. Disampaikan oleh Prabowo pada saat Peresmian 1061 Koperasi Desa Merah Putih di Nganjuk pada Sabtu, 16 Mei 2026.
4. Analisis Makroekonomi Indonesia 2026 oleh Ferry Irwandi.
5. Mengapa Rupiah Terus Melemah? oleh Ferry Irwandi
0 Comments