Di tengah hiruk pikuk yang marak
terjadi di Indonesia mengenai isu sosial dan ekonomi, munculah kesenjangan dan
keterpurukan yang signifikan dalam pasar tenaga kerja nasional, sebab
adanya tingkat pengangguran yang tinggi di tanah air.[1]
Pada kuartal ketiga tahun 2025,
tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Indonesia mencapai 4,85% yang awalnya
mencapai angka 4,91% pada periode yang sama setahun sebelumnya, dengan sekitar
7,46 juta orang jumlah pengangguran
tetap, meskipun jumlah lapangan pekerjaan meningkat sebesar 1,31% menjadi
146,54 juta.[2]
Hal ini disebabkan oleh berbagai
faktor, meliputi pertumbuhan ekonomi, kebijakan pemerintah, dinamika industri
dan sektor pekerjaan, termasuk dalam aspek pendidikan, terutama pada
jenjang perkuliahan. Karena angka pengangguran yang tinggi sering kali
dikaitkan dengan ketidaksesuaian antara keterampilan yang dimiliki oleh tenaga
kerja dengan kebutuhan pasar kerja.[3]
Pendidikan pada jenjang perkuliahan
amat penting untuk mengurangi pengangguran secara keseluruhan dengan meningkatkan keterampilan dan daya
saing tenaga kerja, meskipun tingkat pengangguran yang memiliki gelar sarjana
di Indonesia masih mencapai angka 5,25% pada Februari 2025, yang diakibatkan
oleh ketidaksesuaian antara kurikulum
teori perkuliahan dengan kebutuhan pasar dalam dunia kerja.[4] Oleh
karena itu, pendidikan yang baik—punya prospek kerja yang baik.
Tapi naas, aspek pendidikan di
Indonesia ini kurang diperhatikan oleh sebagian pemerintah, malah sempat
ada kabar burung kalau ada seseorang yang ditanya mengenai sistem apa yang
perlu dihapus di Indonesia, dia menjawab Sistem Pendidikan.
Bukan tanpa alasan, dihapusnya
sistem pendidikan di Indonesia memang perlu—katanya, karena amat tidak relevan
dengan fakta yang terjadi di lapangan. Daripada Sistem Pendidikan, di tanah air
kita tercinta ini malah lebih dibilang Sistem Pengajaran.
Pendidikan berasal dari akar kata
“didik” atau “ mendidik”, yang secara harfiah berarti memelihara dan memberi
latihan. Secara terminologi, Pendidikan
adalah tahapan-tahapan kegiatan mengubah sikap dan perilaku seseorang
atau sekelompok orang melalui upaya pengajaran dan pelatihan.
Adapun mengenai istilah Pengajaran,
menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1991), pengajaran berasal dari akar kata
"ajar", artinya petunjuk yang diberikan kepada seseorang supaya
diketahui (diturut). Kata "mengajar" berarti memberi pelajaran.
Kemudian, beberapa arti dari pengajaran tersebut, Kamus Besar Bahasa Indonesia
mengartikan Pengajaran sebagai "proses perbuatan cara mengajar atau mengajarkan".[5]
Dan dalam pendidikan di Indonesia
sendiri, anak-anak sekolah dibiasakan menghafal, mengerjakan tugas sekolah dan
PR, tanpa ada tuntunan untuk berpikir. Seakan-akan dari kecil, kita dituntut
untuk patuh dan diam, tanpa berpikir dan mengemukakan pendapat. Maka dari itu,
negara kita lebih condong ke Metode Pengajaran yang hanya berbasis transfer
ilmu saja, daripada ke Metode Pendidikan.
Beberapa bukti otentik yang secara tersirat menjelaskan ketimpangan cara berpikir masyarakat di Indonesia sudah cukup banyak, salah satunya yaitu ketika diadakannya PEMILU Presiden Indonesia. Saya pribadi menganut prinsip dasar luberjurdil (Langsung, Umum, Bebas, Rahasia, Jujur, dan Adil), jadi saya punya pilihan tersendiri mengenai siapa calon presiden yang saya pilih.
Namun, secara general kalian pasti tahu tentang
Program Kerja apa yang dibawa oleh ketiga kandidat presiden itu, Prabowo dengan
Makanan Bergizi Gratis-nya, Anies Baswedan dengan Pendidikan dan Pemerataan
Kualitas Sekolah-nya, bahkan Ganjar, dia membawa Program kerja berupa
Pendidikan Gratis selama 12 tahun dan layanan dasar merata.
Sebuah ketimpangan terjadi,
masyarakat Indonesia lebih memilih nasib perut mereka ketimbang sarana
meningkatkan aspek kognitif. Kemudahan Pendidikan diganti dengan Sepiring Nasi
yang kemungkinan malah berdampak buruk dalam Perekonomian Negara.
Pendidikan di suatu negara perlu
ditunjang sebagaimana mestinya, karena Pendidikan adalah jawaban untuk segala
kesenjangan dan keterpurukan yang terjadi. Bahkan realita pahitnya, pemerintah
tidak segera menunjang kualitas pendidikan di Indonesia diakibatkan karena
takut tersaingi. Pemerintah sekarang akan hancur jika semua rakyat mereka
cerdas.
Sebuah Logical Fallacy lagi-lagi
terjadi bagi para orang yang berkecimpung dalam dunia pendidikan, khususnya
dalam dunia perkuliahan. Mereka menganggap bahwa kuliah adalah sarana atau batu
loncatan untuk mendapatkan pekerjaan, tidak salah—kalau mereka berpikir.
Dan hal itu sudah menjadi tradisi. Fakta dalam dunia kerja meskipun telah lulus dari dunia perkuliahan tidak semulus yang dibayangkan, contoh dalam jurusan HI (Hubungan Internasional), meskipun tidak semua, tapi rata-rata mahasiswa jurusan HI ingin menjadi diplomat bahkan menjadi seorang Duta Besar indonesia untuk luar negeri.
Dalam
diskusi informal di forum seperti Reddit dan Facebook, serta
cerita pengalaman dari sejumlah alumni yang disebutkan dalam artikel Vice, di
mana disebutkan bahwa dari ratusan peserta MUN (Model United Nations) di
universitas seperti Universitas Airlangga, hampir tidak ada yang berhasil masuk
Kemenlu, bahkan klaim bahwa persentase lulusan HI dari universitas ternama
sekalipun yang menjadi diplomat kurang dari 25%, angka yang cukup untuk
mematahkan ekspektasi. Dari data yang tersebar di beberapa website, ternyata
yang bercita-cita untuk bekerja di Kemenlu ada ratusan. Padahal, yang diterima
hanya 69 orang.[6]
Pola pikir tentang kuliah sangat
perlu dibenahi, karena Indonesia sekarang sudah salah pengertian dalam konsep
perkuliahan, dari mulai jenjang S1, S2 bahkan jenjang Doktoral hingga
berpangkat Profesor.
Kampus bukan hanya tempat belajar
mengajar oleh dosen kepada mahasiswa saja, kampus adalah Tempat Berpikir.
Mahasiswa adalah segenap orang-orang terpilih dari sekian banyak orang, yang
mendapat kesempatan emas untuk menunjang masa depan, kita perlu syukuri hal
itu. Tapi tidak sedikit dari seluruh mahasiswa itu, memiliki pola pikir yang
masih salah.
Menurut Bagus Muljadi, M.Sc, Ph.D
seorang Ilmuwan dan Asisten Profesor Teknik Kimia dan Lingkungan di University
of Nottingham, Inggris, dalam wawancaranya bersama seorang jurnalis dan
presenter tv Najwa Shihab, S.H, LL.M, yang bersumber dari Youtube Najwa Shihab,
beliau mengatakan tentang sebuah makna dari Sarjana.
Dalam bahasa inggris, sarjana
berasal dari kata Baccalaureate atau Bachelor. Delapan sampai
sembilan ratus tahun yang lalu di Oxford, di Paris, untuk mendapatkan Bachelor
Degree atau Sarjana, kita harus melewati jenjang pendidikan yang bernama Liberal
Arts.
Liberal Arts berasal dari kata
Liberty yang berarti Bebas, dan Liberal Arts sendiri memiliki arti bahwa
seseorang yang ingin belajar—bukan untuk mendapatkan pekerjaan, tapi untuk
menjadi Free Spirit.
Untuk mencapai Free Spirit
dalam Bachelor Degree itu, hal yang pertama kali diajarkan bukanlah
Matematika, Fisika maupun Biologi, melainkan ilmu Retorik, Logik dan Grammar.[7]
Pola pikir yang terarah memungkinkan
seseorang tidak akan kebingungan untuk mendapatkan pekerjaan. Pendidikan yang
memang mengarah pada prospek kerja yang jelas, lebih cenderung pada Pendidikan
Vokasi, yang dimana arti dari Vokasi sendiri adalah Panggilan, yang memiliki
makna Panggilan Profesi.[8]
Kuliah yang baik itu kuliah yang
serius dan tidak asal-asalan. Tak memandang kita dari jurusan mana—kita bisa
jadi apapun yang kita mau.
Trend Skills-Based Hiring atau
tren perekrutan kerja yang mengutamakan kemampuan praktis (skill)
daripada asal universitas atau jurusan kuliah lebih dibutuhkan. Dalam laporan
rekrutmen internasional tahun 2025, sekitar 45% pemberi kerja menyebut bahwa
gelar tidak lagi menjadi faktor utama dalam proses seleksi. Sementara 51% manajer perekrutan bahkan
menilai bahwa kemampuan dan pengalaman praktis jauh lebih berharga daripada
gelar, jabatan, atau lamanya pengalaman kerja.[9]
Kuliah Itu
Penting sebagai sarana untuk menata masa
depan—segalanya dimulai dari belajar. Iqra’ : Bacalah, firman Allah dalam surat
al-’Alaq.[10]
Pola pikir yang tertata sama dengan menata hidup untuk sekarang, membenahi yang
telah lalu dan untuk kehidupan yang akan datang.
Jangan jadi Pengangguran dengan
Gaya, yang menganggap bahwa Yang Penting Kuliah. Kita semua
tidak tahu akan jadi apa di masa depan, tapi orang yang senantiasa istiqomah
untuk belajar, memaksimalkan potensi dan skill, serta selalu hidup produktif,
dia pasti punya bayangan akan jadi seperti apa hidupnya kelak.
…Dengan ilmu
pengetahuan, kita menata logika…, B.J Habibie.
[1] Wikipedia, Pengangguran di Indonesia. https://share.google/Xaf8FjwkMkJIfyqZw [Website Wikipedia].
[2] Trading Economics, Tingkat Pengangguran Indonesia. https://id.tradingeconomics.com/indonesia/unemployment-rate [Website Trading Economics].
[3] I Gusti Ayu Cahyani Dewi, Peran Pendidikan dalam
Mengatasi Kurangnya Angka Pengangguran di Indonesia, 7 November 2024. https://www.kompasiana.com/igustiayucahyanidewi7137/672cc634ed641515bd772d72/peran-pendidikan-dalam-mengatasi-kurangnya-angka-pengangguran-di-indonesia [Website
Kompasiana].
[4] Ilyas Istianur Praditya, Sarjana Menganggur? ini
Fakta Mengejutkan dari Data BPS 2025, 27 Mei 2025. https://www.liputan6.com/bisnis/read/6035469/sarjana-menganggur-ini-fakta-mengejutkan-dari-data-bps-2025 [Website Liputan6].
[5] Meetabied Blog, Arti Kata Pendidikan dan Pengajaran
Menurut Para Ahli. http://meetabied.blogspot.com/2013/02/arti-kata-pendidikan-dan-pengajaran.html [Website Meetabied Blog].
[6] Rosa Folia, Aku Sarjana Hubungan Internasional yang
Tak Lagi Galau MUN dan Ngotot Kerja di Kemlu, 1 Desember 2020. https://www.vice.com/id/article/peluang-kerja-mahasiswa-hubungan-internasional-di-indonesia/ [Website VICE Indonesia].
[7] Retorik : Bagaimana melatih seni berbicara atau
retorika, Logik : Mempelajari cara berpikir kritis dan aturan penalaran yang
valid, Grammar : Aturan untuk menyusun kata demi kata agar menjadi kalimat yang
jelas dan bermakna.
[8] Najwa Shihab, Kuliah, Kerja, dan Kenyataan | Mata
Najwa, 26 September 2025. https://youtu.be/UGU9mTMoSAM?si=rPcS5RKlt7GV8iVF [YT : Najwa Shihab].
[9] Siska Permata Sari, Gelar Sarjana vs Skill, Mana yang
Lebih Dibutuhkan untuk Cari Kerja di 2025?, 20 Oktober 2025. https://lifestyle.viva.co.id/cuan/7060-gelar-sarjana-vs-skill-mana-yang-lebih-dibutuhkan-untuk-cari-kerja-di-2025 [Website VIVA Lifestyle].
[10] Nu Online, Surat Al-’Alaq. https://quran.nu.or.id/al-alaq [Website NU ONLINE].
0 Comments