Yai Ali Musthofa yang akrab dipanggil dengan nama ‘Cak Mus’, pernah memberikan wejangan kepada kami (Pengurus Kudaireng) yang kurang lebih seperti ini, “Wong lek ‘Alim iku berpotensi dadi Kiai, tapi lek wong iku ‘Alim dan paham organisasi, dia bisa mendirikan pondok”.
Dari situ terbesitlah dalam pikiran kami, kalau ingin sukses ya nggak cuman ngaji supaya jadi ‘wong alim’, tapi juga belajar organisasi supaya bisa berperan dalam segala hal, termasuk membangun Bangsa.
Dan pesantren menyediakan hal itu. Tempat dimana seseorang bisa ngaji dan memperdalam ilmu agama, serta belajar berorganisasi lewat lingkungan yang 24/7 hidup mereka dihabiskan bersama orang banyak.
Santri belajar tentang bagaimana cara menjalin komunikasi, dan kerja sama dengan teman-teman dari lintas daerah, berbeda suku, ras, budaya, dan punya ciri khas masing masing—demi tujuan bersama. Itulah Organisasi.
Terlebih lagi, kami bukan cuman sekedar santri biasa, kami Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari—yang tak perlu diragukan lagi soal keilmuan dan pengalaman organisasi, apalagi anak PBSB (baca:bercanda).
Sekelompok anak terpilih yang dianugrahi uang...Eh, maksudku kesempatan untuk menunjang pendidikan secara gratis dan dikasih uang saku bulanan. Kami didukung dalam segi materi dan edukasi, termasuk perihal ke-organisasian, ke-pesantrenan, dan wawasan kebangsaan dalam suatu agenda bernama KTPT (Kaderisasi Tingkat Perguruan Tinggi).
Ke-Organisasian.
Ustad Syahrul Ramadhan, selaku pemateri Keorganisasian, menjelaskan pada kami tentang ilmu -Pengantar dalam Organisasi-.
Gampangnya, beliau bilang bahwa ‘Organisasi itu adalah Suatu kesatuan utuh yang secara sadar, dan dikelola secara Sistematis’, begitulah—tangkapan saya.
Jadi tidak mungkin, sebuah organisasi diisi oleh makhluk yang tak sadar. Beliau mengibaratkan sebuah botol aqua, meskipun memiliki komponen yang tersusun, tapi tidak bisa disebut organisasi, karena Botol Aqua, tidak punya kesadaran.
Secara tersirat, beliau mengisyaratkan bahwa bukan hanya Botol Aqua itu yang tak sadar, tapi organisasi yang diisi oleh orang-orang yang tak punya kesadaran—juga bukan organisasi.
Dalam kitab Hadratusyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari, ada yang namanya Qanun al-Asasi. Undang-Undang Dasar yang didalamnya juga berisi tentang pedoman organisasi, mencangkup: Berorganisasi dengan niat lillahi ta’ala, karena segala sesuatu bisa mendapatkan pahala jika dilakukan karena Allah SWT.
Sabar, juga merupakan landasan dari konsep berorganisasi ala Qanun al-Asasi, karena organisasi itu capek fisik dan mental—mungkin orang lain akan stres dan depresi jika tidak diikutkan sikap sabar ini.
Dan inti dari organisasi—apapun jenisnya, adalah Komunikasi, yang tak lain hanya dengan Musyawarah untuk mufakat-lah cara untuk mencapainya. Begitu terang beliau.
Ke-Pesantrenan.
Wakil mudir bidang ke-Mahasantrian, ikut meramaikan acara KTPT dengan jadi pemateri. Ustad Hamsa Fauriz membangun jiwa kepesantrenan kepada diri kami, ya—Mahasantri-nya.
Beliau mulai dengan mengungkapkan dawuh dari kiai sepuh tebuireng, “Santri iku kudu Bener disek, baru Pinter”, kalau tak salah dengar, kurang lebih seperti itu dawuhnya.
Mengapa demikian? Karena kalau santri itu Pinter dulu baru Bener, maka penyakit-nya orang pinter akan keluar, yaitu sombong.
Maka sebagai santri yang memegang teguh prinsip Ke-Pesantrenan yang baik, hendaklah kita memperbaiki adab dulu supaya jadi ‘Orang Bener’, lalu kita mantapkan thalabul ‘ilmi supaya jadi ‘Orang Pinter’.
For Your Information—ini YTTA (Yang Tau Tau Aja), Ustad Hamsa Fauriz memberitahu kami sebuah info, yang belum disosialisasikan ke seluruh yayasan, hal itu bernama B-E-R-K-A-H. Itu bukan barokah yang bermakna ziyadatul khoir, apalagi berkat bermakna nasi kotak, itu adalah Prinsip Dasar.
B-E-R-K-A-H itu punya kepanjangan, B (Berilmu), E (Etika), R (Religius), K (Kreatif), A (Amal Shalih), H (Hikmah)—Menjadi satu membentuk suatu susunan yang akan menata masa depan Santri Tebuireng.
Ke-Bangsaan.
Orang yang sama, tapi materi kali ini berbeda. Ustad Hamsa Fauriz menjejalkan materi kebangsaan pada kami, generasi yang lahir saat bangsa ini dipimpin oleh rezim tak bertanggung jawab, pemerintah yang ‘hanya tau memerintah’, dan berbagai kesenjangan yang ada.
Moderasi beragama—Itu yang beliau tekankan, tentang bagaimana kita yang seorang santri harus bisa bersikap moderat (tengah-tengah) untuk menengahi segala bentuk perbedaan yang berakhir perpecahan.
Indonesia adalah negara yang besar, dengan 17.380 pulau, 1300 lebih suku budaya, dan 193 total agama yang dimana 6-nya legal, sementara 187 lainnya bersifat ilegal, harus bersama-sama menjunjung tinggi ‘Bhineka Tunggal Ika’, berbeda-beda tetapi tetap satu jua.
Meskipun penuh perbedaan, negara kita harus bersatu, sebangsa dan setanah air Indonesia Raya. Hiduplah seperti Alm. KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang menjunjung tinggi nilai toleransi, yang sampai akhir hayatnya, beliau dikenang sebagai Pahlawan Nasional dengan gelar Bapak Pluralisme.
Itulah kiranya esai dari “saya”-yang sering disapa dengan nama Jar D Yone Sang Pahlawan, namun akrab dengan sapaan “Yon” atau “Yang”—bagi DOI [Dia Orang Istimewa]. Sekian dan Terimakasih.
0 Comments